(1)
Tuhan, Aku Ingin
Hujan, ada satu hal yang ingin kuketahui darinya
Dari ribuan, jutaan bahkan milyaran tetesan air hujan itu aku ingin tahu pesan yang ia bawa dan untuk siapa
Bukan berlagak detektif kemudian menginterogasi setiap tetesan air hujan
Bukan itu yang kumaksud
Hahaha, ayolah, itu terlalu lucu untuk kuperankan
Oke, oke, aku mengaku ada sepenggal alibi yang terbesit pada kalimatku sebelumnya
Aku hanya ingin tahu
Adakah kabar yang hujan bawa untukku
Mungkin dari kekasih-kekasih yang satu per satu mendahuluiku
Atau pesan dari Tuhan agar aku lebih bersabar dengan deritaku misalnya
Apa saja, aku ingin ketahui
Aku percaya aku tidak sendirian kala hujan menyapa tubuh mungilku
Tuhan, akankah Kau beri aku kesempatan untuk menemukan pesan itu?
Setidaknya itu dapat meredakan kekhawatiranku akan masa depan yang membuatku takut
(2)
00.00
Tik tik tik
Alunan nada mello menyelimuti raga mungil
Tik tok tik tok, malam begitu sunyi
Tetesan bening yang tak kalah dengan derasnya hujan malam ini
Malam menyiratkan lafaz pilu dari kalbu
Tik tik tok tik tik tok tik tik tok
Melodi jam dan hujan berkolaborasi indah
Kala pukul 00.00 bersama gadis kecil yang kehilangan senyumannya
(3)
Aku
Aku bukanlah sosok sang juru kunci surga
Tapi aku tak sanggup dalam dingin dan panasnya neraka
Berikanlah aku taubat dan ampunilah dosaku
Sesungguhnya Engkau Al-Ghaffar
Dosaku bagaikan molekul-molekul pasir
Berilah aku taubat duhai Rabb nan agung
Umurku berkurang setiap detik, menit, jam dan hari
Sedang dosaku semakin menggunung bagaimana aku menanggungnya
Rabb pemilik ampunan, terimalah taubatku
(4)
Baitullah
Adakah suara sumbang menggema
Jika aku tengah jatuh cinta pada mesjid
Karena kutahu di sanalah
orang menyebut asma sang Esa
Tiap segerombolan tubuh, kalbu, dan jiwa menyatu
Menuturkan hal yang sama
Oh, sang Pemilik jiwa
Aku benar-benar gila
pada setiap ingatan bahkan kerinduan
Akan jasad kasar rumah-Mu di bumi
Duhai cintaku aku mengerti
jalan inilah tempatku menemukan zat-Mu
(5)
Delusi luka
Degup jantung dalam dada
Menyanyikan melodi ketegaran
Sia-sia saat kisah rembulan menggebu-gebu
Senyum berkerut terpenjara dari kentara pijar yang mematri sanubari
Dunia dan perih
Sekumpulan nyawa yang ku urai dalam hembusan deru nafas
Dan kini memutar derai sajak lara
Rapuh membutir abu merona mencumbu pekat nestapa
Sungguh bangkitlah kembali asa yang sempat memudar
Tubuh goyah tersungkur penuh sayatan membungkam dari mata-mata dunia
Langkah tertatih tetap ku rengkuh
Sungguh duka bersarang disela gema langit bersaksi
Pekat delusi menyayat rona merah cinta
Dalam tawa kau hina
Ketika bibir melafalkan abjadnya dengan secercah asa membuana
Dirimu bersikukuh menegur angkuhnya sang nirmala diantara senyum kecil yang telah bertunas kokoh
(6)
Sajak Seorang Bunda
Nak, kau tahu betapa bersyukurnya Bunda
Ketika anugerah terindah
Hadir dalam kehidupan Bunda
Itu dirimu malaikat kecilku
Tangismu dikala itu
Bagaikan melodi yang menerbangkan
Jiwa menuju Nirwana
Kau hadir dengan senyuman indah
Yang mampu menjadi Asy-syifa teruntuk Bunda
(7)
Aku yang Terikat Rindu
Nak, aku adalah seorang perantau
Banyak susah yang kuhadapi
Aku ini anak rantau yang jauh dari orangtua
Aku ini perantau
Yang tuk makan saja susah
Apalagi pulang tuk melepas rindu
Nak, kau dekat dengan Ayah Ibumu
Tapi aku berbeda
Jarak memisahkan ku dengan mereka
Tuk bertemu sekejap saja berat
Nak, jangan mau jadi diriku yang haus dan lapar karena rindu
Rindu itu sepahit maja
Jangan mau jadi diriku, Nak
Aku ingin sekali memeluk Ayah Ibuku
Tapi tak kunjung sampai
Sedangkan dirimu yang dekat dengan mereka
Begitu enggan untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar mereka
Sejujurnya aku amat cemburu pada dirimu, Nak
Jangan pernah mau seperti diriku
Yang sesak dicekik rindu
(8)
Fiksi yang Paling Misterius
Perihal fiksi yang dinanti juga ditakuti
Kisah yang paling misterius dari kisah fiksi lainnya
Kisah fiksi yang mungkin saja akan terhenti di persimpangan
Sang pakar pun tidak akan sanggup menebak akhir kisah itu
Katanya ketika jam pasir telah kosong
Tidak ada alasan lain lagi selain pulang
Sang pengarang bahkan lupa akan kisah itu
Karena mungkin dia telah lelah dan ingin pulang kembali ke zona nyaman
Pernahkah kamu mendengar pengarang yang meninggalkan mahakaryanya?
(9)
Tangis Bidadari
Aku merasakan sebuah penyesalan yang amat sangat dengan hijab tersingkap.
Ketika lelaki yang tak halal bergelayut dalam benakku
Aku merasakan ketakutan yang begitu besar akan rasa ini
Rasa yang janggal bernamakan cinta
Tak ada senyum bahagia diwajah berhias rona malu
Yang ada adalah kegelisahan karena rasa yang salah
Yang ada ialah penderitaan yang sangat sakit
Saat aku merasakan cinta
Bukan harapan tuk bersua, tapi rasa ingin menghilang darinya
Terbesit rasa khawatir di dalam qalbuku yang teramat sangat
Hati yang mulai merindukan lelaki yang bukan mahram
Aku akan berusaha memusnahkan rasa itu bagaimana pun caranya
Bahkan kendati aku harus pergi maka hal itu akan kulakukan
(10)
Perbedaan adalah Cinta
Adanya hidup ada pula perbedaan
Pun dalam setiap hubungan pasti ada perbedaan
Tapi bukankah itulah sebab kita dekat?
Kita menjadi saling menghargai
Huruf terangkai menjadi kata pula kalimat
Kalimat ‘kan jadi cerita indah
Begitu pula dengan kita
Kita beda namun dipersatukan dengan perbedaan
Tuhan menjadikannya indah
Pelangi berbeda tapi dia elok menghiasi cakrawala
Nada pun berbeda tapi beranakkan harmoni nan ciamik
Bagaimana dengan kita?
Perbedaan diciptakan tuk warnai kehidupan
Dengan perbedaan Tuhan mengajarkan kita cinta
Dengan adanya cinta Ibu pertiwi pun ikut tersipu
Perbedaan itu cantik bukan, kawan?
(11)
Dimensi Hitam
Akh...
Teleportasi imaji ini mengutukku
Ruang hampa dalam dimensi kegelapan
Mengusik aliran darahku tanpa henti
Pengap sungguh tiada tertahankan
Tolong...
Siapapun disana bebaskan aku
Aku dibelenggu dalam pedihnya asmara
Dingin..sepi, terkurung delusi
Aku menginginkan kembali celah kehidupan yang dulu begitu tentram
Aku menginginkannya kembali
Aku jera..
Sangat jera terkurung dalam nestapa ilusimu




Posting Komentar